Tumor
Ganas Merenggut Ginjal Kanan Ku
Perasaan
bahagia dan bersyukur sangat jelas terlihat di wajah kedua orangtua ku saat
dikaruniai putri pertama yang sehat, lucu dan cantik di tahun 1991 bulan
September kala itu yang diberi nama Suci Nanda Nur Syahputri. Ya, itu aku. Kata
papa dulu aku terlahir bersih, sehat, tidak kurang satu apapun, dan memancarkan cahaya kebahagiaan orangtua.
Bayi
lucu dan menggemaskan nya Mama Papa dalam 6 bulan pertama memiliki perkembangan
kesehatan yang baik. Tetapi saat bulan ke – 7 mulai rewel karena mulai sakit seperti batuk,
pilek, demam dan susah makan. Orangtua sering membawa ku ke dokter, bahkan
sampai ganti beberapa dokter. Kondisi ku semakin menurun, seperti merasakan
sesuatu yang sakit, susah makan dan kurus. Aku hanya mengandalkan asupan ASI
Mama saat itu untuk melengkapi asupan makanan dan gizi ku.
Saat
umurku genap 1 tahun, orangtuaku merayakan hari ulang tahunku dengan meriahnya
bersama teman – teman kecilku dan saudara sepupuku. Walau kondisi ku suka
rewel, terlihat kurus dan lesu, aku sangat senang saat itu meniup lilin kue
ulang tahun dengan tumpukan kado – kado lucu. Mungkin saat itu aku melupakan sejenak
rasa sakit yang tidak enak di dalam tubuhku.
Orang
bilang bayi umur 1 tahun itu lagi lucu – lucu nya. Tapi tidak dengan aku yang
saat itu nangis terus, semakin kurus dan kadang demam. Beberapa dokter
mengatakan itu hal biasa. 3 bulan kemudian setelah perayaan ulang tahun, Mama
menemukan benjolan seperti telur di bagian kanan perut saat memandikan ku.
Kaget dan takut menyelimuti hati orangtuaku, sehingga dengan sigap mereka
membawaku ke dokter.
Lagi
dan lagi dokter saat itu mendiagnosa sakit ku biasa, aku di diagnosa kurang
gizi / busung lapar. Untungnya Papa ku tidak begitu langsung percaya, bagaimana
mungkin, setiap hari saja Mama ku rajin memberikan makanan sayur, buah dan ASI
yang bergizi untuk ku, kemudian Papa membawa ku ke dokter lain hasil
rekomendasi saudara.
Setelah
bertemu dokter yang di rekomendasi tersebut, kata Mama saat itu aku dicek
sangat lama, dari ujung rambut sampai kaki. Dokter nya sangat teliti dan penuh
hati – hati memeriksa perut ku yang semakin hari ternyata semakin membesar. Dengan
perasaan yang menegangkan, dokter merujuk ku agar segera test lab. Orangtua ku
sangat kooperatif, tanpa menunda di hari itu langsung melakukan rangkaian test
yang dianjurkan dokter tersebut.
Mungkin
hari itu adalah hari yang paling menyedihkan bagi kedua orangtuaku. Saat dokter
membacakan hasil test lab, dengan nada pelan dan lembut dokter menjelaskan
bahwa aku di diagnosa Tumor Wilms, yaitu tumor ganas di ginjal. Harus segera operasi
pengangkatan ginjal kanan karena ada sel kanker aktif yang merusak ginjal kanan
agar tidak menyebar dan menjalar ke organ tubuh lain.
Bagaikan
tersambar petir di siang bolong. Itulah yang Papa ungkapkan setiap bercerita
saat pertama kali mengetahui putri pertamanya mengidap Tumor Wilms. Tidak ada
riwayat keturunan keluarga maupun sanak saudara, dan Mama sangat menjaga asupan
makanan minuman anaknya dari lahir. Bagaimana bisa anak nya mengidap kanker
tumor ganas di ginjal?
Seperti
ada sesuatu yang mendorong orangtua ku di hari Jumat itu, tanpa pikir panjang,
Papa langsung menjadwalkan operasi ku pada hari Senin, mau nya sih Sabtu tapi
jadwal operasi hanya weekdays, jadi ambil jadwal tercepat. Kemudian ada kendala
kamar rawat inap reguler untuk pasca operasi pun penuh, kondisi ekonomi
orangtua saat itu bisa dibilang kurang berkecukupan. Mama Papa masih sangat
muda, pengantin baru. Tidak memikirkan berapa banyak biaya yang akan
dikeluarkan nanti, tetapi tetap memberikan pengobatan terbaik demi kesembuhanku
sehingga tanpa berpikir panjang aku masuk ruang rawat inap Paviliun Tumbuh
Kembang yang saat itu harganya sangat mahal sekelas VVIP. Entah bagaimana nanti
mendapatkan uang, yang penting anak nya segera di tindak lanjuti demi
kesembuhan.
Hari
Senin pun tiba, dimana operasi pengangkatan ginjal kanan ku terjadi. Segenap
doa dan dukungan dari keluarga tercurahkan untuk ku. Ketika masuk ke ruangan
operasi, Mama dan Papa menunggu didepan ruangan operasi dengan penuh doa.
Tiba-tiba saat operasi berjalan sekitar 20 menit, dokter keluar ruangan
operasi. Perasaan yang tergambar oleh kedua orangtua ku adalah “ada apa dengan
anakku, Suci? Apakah operasi nya gagal? Anakku ...?”. Dokter bilang, reaksi obat
bius Suci saat operasi sedang berlangsung sudah mau habis dan kebetulan tidak
ada lagi persediaan obat bius di RS ini. Dokter memohon kepada Papa agar tolong
segera membelikan obat bius di apotek sebrang RSCM. Takut anak nya keburu sadar
saat operasi belangsung.
Tanpa
berpikir panjang, protes ataupun mengeluh, Papa langsung lari ke apotek sebrang
RSCM. Terbayangkan panjangnya gedung RSCM sehingga jarak yang ditempuh cukup
jauh dibanding waktu yang terbuang agar obat bius anaknya saat operasi tidak
habis. Entah apa yang saat itu terjadi, kata Papa, “Seperti ada malaikat
penolong, tiba-tiba aja Papa cepat sampai apotek sambil berlari, langsung
dilayani dan obat bius dengan cepat ditangan. Kemudian berlari lagi menuju
ruang operasi”. Yang ada dipikiran Papa adalah supaya anak Papa gak ngerasa
sakit karena obat bius nya habis. Masya Allah, obat bius pun sudah diterima
dokter dan operasi pun tetap berjalan. Mama hanya bisa terdiam dan berdoa. Saat
itu hal yang benar-benar baru bagi Mama yang baru berusia 22 tahun, tidak
memiliki orangtua dan mertua yang mendapingi situasi sulit seperti ini. Kalau
kata Mama, Mama seperti linglung, kaya mimpi, sedih yang teramat sedih sampai
susah keluar air mata, gak ngerti harus berbuat apa selain berdoa kepada Allah.
Tidak
lama kemudian lampu ruang operasi mati, pertanda operasi sudah selesai. Lalu
dokter keluar ruangan, membawa kabar bahwa Alhamdulillah operasi berhasil, Suci
baik-baik saja, dan menunjukkan sesuatu di tabung bening yaitu tumor besar
sebesar bakso jumbo dengan berat 1,3 kg mengambang diantara cairan darah-darah.
Seketika Papa pingsan melihat tumor yang hampir merenggut nyawa anak pertama
semata wayang nya yang masih berusia 1 tahun.
Setelah
operasi selesai, aku masih mendapatkan perawatan intensif dan harus melakukan
kemoterapi untuk membunuh sel kanker agar tidak menyebar. Perjalanan
proses kemoterapi sangatlah berat. Anak balita umur 1 tahun harus merasakan
puluhan kali suntikan, berbagai macam obat, dan efek sakit yang luar biasa.
Saat
menjalani kemoterapi yang panjang (1992 – 1994), aku sama sekali tidak ingat
bagaimana rasanya dan perjuangannya, yang pasti keberhasilan kemoterapi ku selain
atas izin Allah, ini semua tidak terlepas dari perjuangan Mama dan Papa yang
sangat luar biasa kuat, sabar dan teliti mengurusku. Rasa sakit yang ku rasakan
bahkan dapat berlipat-lipat dirasakan oleh kedua orangtua ku. Mama pernah
bercerita, dulu aku sering sekali nangis, takut bertemu orang, hanya mau di
gendong Mama dan Papa saja. Papa sampai resign dari kantor nya karena tidak
tega meninggalkan aku dan mama yang sedang berjuang. Sehingga Papa memutuskan
untuk berwirausaha saat pekerjaannya sedang bagus-bagusnya, insya Allah rezeki
akan datang dari mana saja, yang penting Papa bisa memberikan banyak waktu dan
perhatian lebih untuk ku yang sedang sakit saat itu.
Setiap
mendengar cerita perjuangan Mama dan Papa merawatku saat proses kemoterapi,
hati ku seperti teriris, perih, sakit. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana
aku berada di posisi mereka. Ketika anak nya di suntik kesakitan, merasakan
efek kemo yang muntah-muntah, kulit hangus seperti terbakar, susah makan dan
minum, rambut yang selalu rontok sampai botak, dan sempat beberapa kali
tiba-tiba ngedrop sehingga harus dirawat kembali di Rumah Sakit. Saat itu
kekuatan tubuh ku terbantu oleh ASI yang Mama berikan. Segala bujuk rayu Mama
dan Papa lakukan agar aku dapat masuk makanan yang bergizi. Alhamdulillah
segala proses dijalani Mama dan Papa dengan baik, masa-masa kritis efek
kemotrapi ku pun berakhir.
Sel-sel
kanker perlahan tapi pasti terbunuh didalam badanku. Sel-sel baru tergantikan
dengan baik. Saatnya badanku menjalani proses maintenance pengobatan. Sudah
bisa ku ingat jelas, ketika umur ku sudah 4 tahun memasuki sekolah TK, aku
sering sekali kontrol ke dokter untuk cek darah dll. Ketakutan ku pada jarum
suntik masih berlanjut dan teringat setiap perawat menyuntik bagian tubuh ku,
nangis, dan menganggap semua perawat dan dokter itu jahat. Tetapi seiring bertambah
nya usia, aku mulai mengerti akan riwayat sakitku, aku bisa menerima apa yang
terjadi pada hidupku. Aku sudah bersahabat dengan rumah sakit, dokter dan
perawatnya. Ini semua demi kesembuhan total ku. Dan alhamdulillah aku
dinyatakan sembuh saat aku berusia 6 tahun dimana sudah masuk Sekolah Dasar
kelas 1.