Senin, 29 April 2019

Tumor Ganas Merenggut Ginjal Kanan Ku


Tumor Ganas Merenggut Ginjal Kanan Ku


Perasaan bahagia dan bersyukur sangat jelas terlihat di wajah kedua orangtua ku saat dikaruniai putri pertama yang sehat, lucu dan cantik di tahun 1991 bulan September kala itu yang diberi nama Suci Nanda Nur Syahputri. Ya, itu aku. Kata papa dulu aku terlahir bersih, sehat, tidak kurang satu apapun,  dan memancarkan cahaya kebahagiaan orangtua.
Bayi lucu dan menggemaskan nya Mama Papa dalam 6 bulan pertama memiliki perkembangan kesehatan yang baik. Tetapi saat bulan ke – 7  mulai rewel karena mulai sakit seperti batuk, pilek, demam dan susah makan. Orangtua sering membawa ku ke dokter, bahkan sampai ganti beberapa dokter. Kondisi ku semakin menurun, seperti merasakan sesuatu yang sakit, susah makan dan kurus. Aku hanya mengandalkan asupan ASI Mama saat itu untuk melengkapi asupan makanan dan gizi ku.
Saat umurku genap 1 tahun, orangtuaku merayakan hari ulang tahunku dengan meriahnya bersama teman – teman kecilku dan saudara sepupuku. Walau kondisi ku suka rewel, terlihat kurus dan lesu, aku sangat senang saat itu meniup lilin kue ulang tahun dengan tumpukan kado – kado lucu. Mungkin saat itu aku melupakan sejenak rasa sakit yang tidak enak di dalam tubuhku.
Orang bilang bayi umur 1 tahun itu lagi lucu – lucu nya. Tapi tidak dengan aku yang saat itu nangis terus, semakin kurus dan kadang demam. Beberapa dokter mengatakan itu hal biasa. 3 bulan kemudian setelah perayaan ulang tahun, Mama menemukan benjolan seperti telur di bagian kanan perut saat memandikan ku. Kaget dan takut menyelimuti hati orangtuaku, sehingga dengan sigap mereka membawaku ke dokter.
Lagi dan lagi dokter saat itu mendiagnosa sakit ku biasa, aku di diagnosa kurang gizi / busung lapar. Untungnya Papa ku tidak begitu langsung percaya, bagaimana mungkin, setiap hari saja Mama ku rajin memberikan makanan sayur, buah dan ASI yang bergizi untuk ku, kemudian Papa membawa ku ke dokter lain hasil rekomendasi saudara.
Setelah bertemu dokter yang di rekomendasi tersebut, kata Mama saat itu aku dicek sangat lama, dari ujung rambut sampai kaki. Dokter nya sangat teliti dan penuh hati – hati memeriksa perut ku yang semakin hari ternyata semakin membesar. Dengan perasaan yang menegangkan, dokter merujuk ku agar segera test lab. Orangtua ku sangat kooperatif, tanpa menunda di hari itu langsung melakukan rangkaian test yang dianjurkan dokter tersebut.
Mungkin hari itu adalah hari yang paling menyedihkan bagi kedua orangtuaku. Saat dokter membacakan hasil test lab, dengan nada pelan dan lembut dokter menjelaskan bahwa aku di diagnosa Tumor Wilms, yaitu tumor ganas di ginjal. Harus segera operasi pengangkatan ginjal kanan karena ada sel kanker aktif yang merusak ginjal kanan agar tidak menyebar dan menjalar ke organ tubuh lain.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong. Itulah yang Papa ungkapkan setiap bercerita saat pertama kali mengetahui putri pertamanya mengidap Tumor Wilms. Tidak ada riwayat keturunan keluarga maupun sanak saudara, dan Mama sangat menjaga asupan makanan minuman anaknya dari lahir. Bagaimana bisa anak nya mengidap kanker tumor ganas di ginjal?
Seperti ada sesuatu yang mendorong orangtua ku di hari Jumat itu, tanpa pikir panjang, Papa langsung menjadwalkan operasi ku pada hari Senin, mau nya sih Sabtu tapi jadwal operasi hanya weekdays, jadi ambil jadwal tercepat. Kemudian ada kendala kamar rawat inap reguler untuk pasca operasi pun penuh, kondisi ekonomi orangtua saat itu bisa dibilang kurang berkecukupan. Mama Papa masih sangat muda, pengantin baru. Tidak memikirkan berapa banyak biaya yang akan dikeluarkan nanti, tetapi tetap memberikan pengobatan terbaik demi kesembuhanku sehingga tanpa berpikir panjang aku masuk ruang rawat inap Paviliun Tumbuh Kembang yang saat itu harganya sangat mahal sekelas VVIP. Entah bagaimana nanti mendapatkan uang, yang penting anak nya segera di tindak lanjuti demi kesembuhan.
Hari Senin pun tiba, dimana operasi pengangkatan ginjal kanan ku terjadi. Segenap doa dan dukungan dari keluarga tercurahkan untuk ku. Ketika masuk ke ruangan operasi, Mama dan Papa menunggu didepan ruangan operasi dengan penuh doa. Tiba-tiba saat operasi berjalan sekitar 20 menit, dokter keluar ruangan operasi. Perasaan yang tergambar oleh kedua orangtua ku adalah “ada apa dengan anakku, Suci? Apakah operasi nya gagal? Anakku ...?”. Dokter bilang, reaksi obat bius Suci saat operasi sedang berlangsung sudah mau habis dan kebetulan tidak ada lagi persediaan obat bius di RS ini. Dokter memohon kepada Papa agar tolong segera membelikan obat bius di apotek sebrang RSCM. Takut anak nya keburu sadar saat operasi belangsung.
Tanpa berpikir panjang, protes ataupun mengeluh, Papa langsung lari ke apotek sebrang RSCM. Terbayangkan panjangnya gedung RSCM sehingga jarak yang ditempuh cukup jauh dibanding waktu yang terbuang agar obat bius anaknya saat operasi tidak habis. Entah apa yang saat itu terjadi, kata Papa, “Seperti ada malaikat penolong, tiba-tiba aja Papa cepat sampai apotek sambil berlari, langsung dilayani dan obat bius dengan cepat ditangan. Kemudian berlari lagi menuju ruang operasi”. Yang ada dipikiran Papa adalah supaya anak Papa gak ngerasa sakit karena obat bius nya habis. Masya Allah, obat bius pun sudah diterima dokter dan operasi pun tetap berjalan. Mama hanya bisa terdiam dan berdoa. Saat itu hal yang benar-benar baru bagi Mama yang baru berusia 22 tahun, tidak memiliki orangtua dan mertua yang mendapingi situasi sulit seperti ini. Kalau kata Mama, Mama seperti linglung, kaya mimpi, sedih yang teramat sedih sampai susah keluar air mata, gak ngerti harus berbuat apa selain berdoa kepada Allah.
Tidak lama kemudian lampu ruang operasi mati, pertanda operasi sudah selesai. Lalu dokter keluar ruangan, membawa kabar bahwa Alhamdulillah operasi berhasil, Suci baik-baik saja, dan menunjukkan sesuatu di tabung bening yaitu tumor besar sebesar bakso jumbo dengan berat 1,3 kg mengambang diantara cairan darah-darah. Seketika Papa pingsan melihat tumor yang hampir merenggut nyawa anak pertama semata wayang nya yang masih berusia 1 tahun.
Setelah operasi selesai, aku masih mendapatkan perawatan intensif dan harus melakukan kemoterapi untuk membunuh sel kanker agar tidak menyebar. Perjalanan proses kemoterapi sangatlah berat. Anak balita umur 1 tahun harus merasakan puluhan kali suntikan, berbagai macam obat, dan efek sakit yang luar biasa.
Saat menjalani kemoterapi yang panjang (1992 – 1994), aku sama sekali tidak ingat bagaimana rasanya dan perjuangannya, yang pasti keberhasilan kemoterapi ku selain atas izin Allah, ini semua tidak terlepas dari perjuangan Mama dan Papa yang sangat luar biasa kuat, sabar dan teliti mengurusku. Rasa sakit yang ku rasakan bahkan dapat berlipat-lipat dirasakan oleh kedua orangtua ku. Mama pernah bercerita, dulu aku sering sekali nangis, takut bertemu orang, hanya mau di gendong Mama dan Papa saja. Papa sampai resign dari kantor nya karena tidak tega meninggalkan aku dan mama yang sedang berjuang. Sehingga Papa memutuskan untuk berwirausaha saat pekerjaannya sedang bagus-bagusnya, insya Allah rezeki akan datang dari mana saja, yang penting Papa bisa memberikan banyak waktu dan perhatian lebih untuk ku yang sedang sakit saat itu.
Setiap mendengar cerita perjuangan Mama dan Papa merawatku saat proses kemoterapi, hati ku seperti teriris, perih, sakit. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku berada di posisi mereka. Ketika anak nya di suntik kesakitan, merasakan efek kemo yang muntah-muntah, kulit hangus seperti terbakar, susah makan dan minum, rambut yang selalu rontok sampai botak, dan sempat beberapa kali tiba-tiba ngedrop sehingga harus dirawat kembali di Rumah Sakit. Saat itu kekuatan tubuh ku terbantu oleh ASI yang Mama berikan. Segala bujuk rayu Mama dan Papa lakukan agar aku dapat masuk makanan yang bergizi. Alhamdulillah segala proses dijalani Mama dan Papa dengan baik, masa-masa kritis efek kemotrapi ku pun berakhir.
Sel-sel kanker perlahan tapi pasti terbunuh didalam badanku. Sel-sel baru tergantikan dengan baik. Saatnya badanku menjalani proses maintenance pengobatan. Sudah bisa ku ingat jelas, ketika umur ku sudah 4 tahun memasuki sekolah TK, aku sering sekali kontrol ke dokter untuk cek darah dll. Ketakutan ku pada jarum suntik masih berlanjut dan teringat setiap perawat menyuntik bagian tubuh ku, nangis, dan menganggap semua perawat dan dokter itu jahat. Tetapi seiring bertambah nya usia, aku mulai mengerti akan riwayat sakitku, aku bisa menerima apa yang terjadi pada hidupku. Aku sudah bersahabat dengan rumah sakit, dokter dan perawatnya. Ini semua demi kesembuhan total ku. Dan alhamdulillah aku dinyatakan sembuh saat aku berusia 6 tahun dimana sudah masuk Sekolah Dasar kelas 1.